Kenali gejala asam urat, mulai dari nyeri sendi mendadak, pembengkakan, kemerahan, hingga benjolan tofi. Ketahui penyebab dan cara mengatasinya.
Asam urat merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dikaitkan dengan nyeri pada persendian. Kondisi ini dapat membuat seseorang kesulitan berjalan, menggerakkan kaki, atau melakukan aktivitas sehari-hari ketika serangan terjadi. Salah satu ciri yang paling dikenal adalah rasa nyeri hebat pada pangkal ibu jari kaki, terutama yang muncul secara tiba-tiba.
Namun, gejala asam urat tidak selalu muncul di bagian kaki. Kondisi ini juga dapat menyerang pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, hingga siku. Pada sebagian orang, kadar asam urat dalam darah dapat meningkat tanpa menimbulkan keluhan apa pun.
Lalu, apa saja gejala asam urat yang perlu diwaspadai? Mengenali tanda-tandanya sejak awal dapat membantu seseorang mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Asam urat adalah zat yang terbentuk ketika tubuh memecah purin, yaitu senyawa alami yang terdapat dalam sel tubuh dan berbagai jenis makanan. Dalam kondisi normal, asam urat larut dalam darah dan dikeluarkan melalui urine.
Namun, jika tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat atau ginjal tidak mampu membuangnya dengan optimal, kadar asam urat dalam darah dapat meningkat. Kondisi ini disebut hiperurisemia.
Kadar asam urat yang tinggi tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit asam urat atau gout. Gout terjadi ketika kristal urat terbentuk dan menumpuk di dalam atau sekitar persendian sehingga memicu peradangan, nyeri, dan pembengkakan.
Salah satu gejala asam urat yang paling khas adalah nyeri sendi yang muncul secara mendadak. Rasa sakitnya dapat sangat kuat, bahkan membuat penderitanya kesulitan berdiri, berjalan, atau menggerakkan sendi yang terkena.
Nyeri sering kali muncul pada malam hari atau menjelang pagi. Serangan dapat berkembang dalam beberapa jam dan mencapai tingkat paling parah dalam waktu sekitar 12–24 jam.
Meskipun pangkal ibu jari kaki merupakan lokasi yang umum terkena, nyeri akibat asam urat juga bisa muncul pada lutut, pergelangan kaki, tangan, dan siku.
Selain terasa sakit, sendi yang mengalami serangan asam urat dapat terlihat membengkak. Pembengkakan terjadi karena adanya reaksi peradangan akibat penumpukan kristal urat.
Area yang terkena bisa tampak lebih besar dibandingkan sisi lainnya dan terasa tidak nyaman ketika digunakan untuk bergerak. Pada serangan yang berat, pembengkakan dapat membuat aktivitas sederhana, seperti memakai sepatu atau menaiki tangga, menjadi sulit dilakukan.
Gejala asam urat juga dapat ditandai dengan kulit di sekitar sendi yang tampak kemerahan. Warna kemerahan ini muncul akibat proses peradangan yang terjadi pada jaringan di sekitar persendian.
Pada sebagian orang, kulit yang terkena juga terlihat mengilap dan terasa lebih tegang karena pembengkakan. Gejala ini dapat menyerupai infeksi sendi atau kondisi peradangan lainnya sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Ketika serangan asam urat terjadi, bagian sendi yang terkena biasanya terasa lebih hangat atau panas saat disentuh. Kondisi ini dapat muncul bersamaan dengan pembengkakan, kemerahan, dan nyeri.
Rasa panas tersebut merupakan bagian dari respons peradangan tubuh. Jika sendi terasa panas disertai demam atau menggigil, jangan langsung menganggapnya sebagai asam urat karena infeksi sendi juga dapat menimbulkan gejala serupa dan memerlukan penanganan segera.
Pada serangan asam urat yang akut, sendi dapat menjadi sangat sensitif. Sentuhan ringan, gesekan pakaian, atau tekanan selimut pada area yang sakit terkadang sudah cukup untuk memicu rasa nyeri.
Sensitivitas ini dapat mengganggu tidur dan membuat penderita enggan menggerakkan bagian tubuh yang terkena. Keluhan biasanya berangsur membaik ketika peradangan mereda, meskipun durasi serangan setiap orang bisa berbeda.
Nyeri dan pembengkakan dapat membatasi pergerakan sendi. Misalnya, seseorang mungkin kesulitan menekuk lutut, berjalan dengan normal, atau menggenggam benda ketika serangan terjadi pada tangan.
Pada tahap awal, keluhan ini bisa muncul hanya saat serangan berlangsung. Namun, jika asam urat tidak ditangani dengan baik dan serangan berulang dalam jangka panjang, peradangan dapat menyebabkan kerusakan sendi dan keterbatasan gerak yang lebih menetap.
Gejala asam urat dapat menghilang dengan sendirinya setelah beberapa hari hingga beberapa minggu. Setelah rasa sakit mereda, seseorang mungkin merasa bahwa masalahnya sudah selesai.
Padahal, kristal urat masih dapat tertinggal di jaringan. Tanpa pengelolaan yang tepat, serangan bisa muncul kembali, bahkan menjadi lebih sering atau melibatkan beberapa sendi sekaligus.
Karena itu, hilangnya nyeri tidak selalu berarti kadar asam urat sudah terkendali.
Pada asam urat yang berlangsung lama dan tidak terkontrol, kristal urat dapat menumpuk membentuk benjolan yang disebut tofi. Benjolan ini bisa muncul di sekitar jari tangan, jari kaki, siku, atau bagian tubuh lain di dekat persendian.
Tofi dapat terasa keras dan terkadang mengganggu pergerakan sendi. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada gout kronis dan bukan gejala yang biasanya muncul pada tahap awal.
Tidak. Seseorang dapat memiliki kadar asam urat yang tinggi tanpa mengalami nyeri, pembengkakan, atau keluhan lainnya. Kondisi ini disebut hiperurisemia tanpa gejala.
Sebaliknya, ketika kristal urat memicu peradangan pada sendi, gejala gout dapat muncul secara mendadak. Oleh sebab itu, seseorang tidak dapat memastikan dirinya mengalami penyakit asam urat hanya berdasarkan keluhan nyeri sendi atau hasil pemeriksaan kadar asam urat saja.
Dokter akan mempertimbangkan riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, dan bila diperlukan pemeriksaan cairan sendi atau pencitraan untuk membantu memastikan diagnosis.
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami asam urat. Salah satunya adalah gangguan pembuangan asam urat melalui ginjal. Faktor lain meliputi riwayat keluarga, berat badan berlebih, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, serta penggunaan obat tertentu, seperti beberapa jenis diuretik.
Pola makan juga dapat berperan. Konsumsi berlebihan makanan tinggi purin, seperti jeroan dan beberapa jenis makanan laut, serta minuman beralkohol atau minuman manis tinggi fruktosa dapat meningkatkan risiko serangan pada orang yang rentan.
Meski demikian, asam urat tidak semata-mata disebabkan oleh makanan. Faktor genetik, kondisi kesehatan, dan fungsi ginjal juga berpengaruh terhadap kadar asam urat dalam tubuh.
Jika mengalami nyeri sendi yang diduga berkaitan dengan asam urat, istirahatkan sendi yang sakit dan hindari aktivitas yang menambah tekanan pada area tersebut. Kompres dingin yang dibungkus kain dapat membantu mengurangi rasa nyeri dan pembengkakan.
Pastikan tubuh mendapatkan cukup cairan, kecuali dokter memberikan pembatasan cairan karena kondisi kesehatan tertentu. Mengurangi konsumsi jeroan, makanan laut tertentu, alkohol, dan minuman manis juga dapat membantu mengelola risiko serangan.
Dokter dapat memberikan obat untuk meredakan peradangan dan nyeri sesuai kondisi pasien. Untuk orang yang mengalami serangan berulang atau memiliki indikasi tertentu, obat penurun kadar asam urat mungkin diperlukan dalam jangka panjang. Penggunaan obat sebaiknya mengikuti arahan dokter, bukan hanya berdasarkan gejala atau hasil pemeriksaan laboratorium.
Jangan menghentikan obat asam urat yang telah diresepkan secara mandiri ketika nyeri sudah mereda. Pengelolaan jangka panjang bertujuan menjaga kadar asam urat tetap terkendali dan mencegah terbentuknya kristal baru.
Gejala asam urat yang paling umum meliputi nyeri sendi mendadak, pembengkakan, kemerahan, rasa panas, dan sendi yang sangat sensitif terhadap sentuhan. Keluhan sering terjadi pada pangkal ibu jari kaki, tetapi dapat menyerang lutut, pergelangan kaki, tangan, maupun siku.
Pada tahap lanjut, asam urat yang tidak terkontrol dapat menyebabkan serangan berulang, terbentuknya benjolan tofi, dan kerusakan sendi. Namun, tidak semua nyeri sendi disebabkan oleh asam urat dan kadar asam urat yang tinggi belum tentu menandakan gout.
Jika mengalami gejala yang mencurigakan, sebaiknya lakukan pemeriksaan medis untuk memastikan penyebabnya. Dengan diagnosis, pengobatan, dan perubahan gaya hidup yang sesuai, gejala dapat dikelola dan risiko serangan berulang dapat dikurangi.