Kenali pengapuran lutut atau osteoarthritis, mulai dari penyebab, gejala, faktor risiko, cara mengatasi, olahraga yang sesuai, hingga kapan perlu diperiksa.
Lutut sering terasa nyeri ketika berjalan, naik tangga, berdiri dari posisi duduk, atau setelah terlalu lama beraktivitas. Keluhan tersebut cukup sering disebut sebagai pengapuran lutut oleh masyarakat.
Istilah pengapuran lutut umumnya digunakan untuk menggambarkan osteoarthritis lutut, yaitu kondisi ketika jaringan di dalam sendi mengalami perubahan dan kerusakan secara bertahap. Tulang rawan yang melapisi ujung tulang dapat mengalami perubahan, sementara struktur lain seperti tulang, meniskus, tendon, ligamen, dan lapisan sendi juga dapat ikut terdampak.
Walaupun lebih sering terjadi seiring bertambahnya usia, pengapuran lutut bukan hanya masalah orang lanjut usia. Cedera, berat badan berlebih, aktivitas yang memberikan tekanan berulang pada lutut, faktor genetik, dan kondisi tertentu juga dapat meningkatkan risikonya.
Sendi lutut terdiri dari tulang paha, tulang kering, tempurung lutut, serta berbagai jaringan yang membantu sendi bergerak dan tetap stabil.
Pada kondisi normal, tulang rawan membantu permukaan tulang bergerak dengan lebih lancar dan mengurangi gesekan. Pada osteoarthritis, jaringan sendi mengalami perubahan secara bertahap. Seiring perkembangan kondisi, ruang sendi dapat menyempit dan dapat muncul pertumbuhan tulang baru atau osteofit (bone spur).
Inilah yang sering disebut masyarakat sebagai “pengapuran”. Jadi, pengapuran lutut bukan berarti lutut dipenuhi kapur atau kalsium.
Tidak ada satu penyebab tunggal untuk semua kasus osteoarthritis lutut. Kondisi ini merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang memengaruhi jaringan sendi.
Usia merupakan salah satu faktor risiko utama.
Kemampuan jaringan tulang rawan untuk memperbaiki diri juga dapat menurun seiring bertambahnya usia, sehingga osteoarthritis lebih sering ditemukan pada kelompok usia paruh baya dan lebih tua.
Namun, usia bukan berarti seseorang pasti mengalami pengapuran lutut.
Lutut merupakan sendi yang menopang beban tubuh. Semakin besar beban yang harus ditopang, semakin besar pula tekanan yang diterima sendi ketika berjalan atau melakukan aktivitas tertentu.
Berat badan berlebih juga berkaitan dengan proses biologis yang dapat memengaruhi jaringan sendi. Karena itu, menjaga berat badan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko dan mengelola osteoarthritis lutut.
Riwayat cedera lutut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya osteoarthritis di kemudian hari.
Cedera akibat olahraga, kecelakaan, atau kerusakan struktur tertentu pada lutut dapat mengubah cara kerja sendi. Dalam jangka panjang, perubahan tersebut dapat berkontribusi terhadap osteoarthritis.
Karena itu, cedera lutut sebaiknya tidak diabaikan meskipun rasa sakit sudah berkurang.
Pekerjaan atau aktivitas yang mengharuskan seseorang sering berjongkok, berlutut, berjalan jauh, mengangkat beban, atau memberikan tekanan berulang pada lutut dapat meningkatkan risiko masalah lutut.
Namun, hal ini bukan berarti olahraga harus dihindari. Aktivitas fisik yang tepat justru merupakan bagian penting dari penanganan osteoarthritis.
Riwayat keluarga juga dapat memengaruhi risiko osteoarthritis.
Faktor genetik tertentu dapat berkaitan dengan struktur sendi atau karakteristik tulang rawan yang membuat seseorang lebih rentan mengalami osteoarthritis.
Pengapuran lutut biasanya berkembang secara perlahan. Pada awalnya, keluhan mungkin hanya muncul setelah aktivitas yang cukup berat.
Beberapa gejala yang sering ditemukan antara lain nyeri saat lutut digunakan, kaku setelah beristirahat, pembengkakan, berkurangnya rentang gerak, serta sensasi berderak atau bergesekan ketika lutut digerakkan.
Kekakuan setelah bangun tidur atau setelah lama tidak bergerak pada osteoarthritis biasanya berlangsung relatif singkat, sering kali kurang dari 30 menit.
Seiring kondisi berkembang, aktivitas sederhana seperti naik tangga, berjalan, berdiri dari kursi, atau masuk dan keluar kendaraan dapat menjadi semakin sulit.
Bunyi berderak atau bergesekan saat lutut digerakkan dapat muncul pada osteoarthritis.
Namun, bunyi pada lutut saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami pengapuran. Ada orang yang mengalami bunyi lutut tanpa nyeri maupun kerusakan sendi yang signifikan.
Karena itu, bunyi “krek-krek” sebaiknya dilihat bersama gejala lain seperti nyeri, kaku, bengkak, dan keterbatasan gerak.
Bisa.
Walaupun lebih umum pada usia yang lebih tua, orang yang lebih muda juga dapat mengalami osteoarthritis, terutama setelah cedera sendi, memiliki struktur sendi tertentu, atau memiliki faktor genetik yang meningkatkan risiko.
Jadi, lutut sakit pada usia muda tidak sebaiknya langsung dianggap hanya sebagai “kurang olahraga” atau sebaliknya langsung disebut pengapuran. Penyebabnya perlu diperiksa.
Osteoarthritis merupakan kondisi jangka panjang dan belum memiliki obat yang dapat menghilangkan perubahan penyakit secara permanen. Namun, gejalanya dapat dikelola dan fungsi lutut dapat dipertahankan atau ditingkatkan.
Tujuan penanganan bukan hanya mengurangi rasa sakit, tetapi juga membantu seseorang tetap aktif dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, diagnosis pengapuran lutut bukan berarti harus menerima nyeri tanpa penanganan.
Penanganan osteoarthritis lutut biasanya disesuaikan dengan tingkat gejala dan kondisi masing-masing orang.
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap olahraga pasti memperparah pengapuran.
Padahal, aktivitas fisik merupakan salah satu terapi penting untuk osteoarthritis. Latihan yang tepat dapat membantu mengurangi nyeri dan kekakuan serta meningkatkan kekuatan otot dan fungsi sendi.
Aktivitas seperti berjalan, bersepeda, berenang, latihan kekuatan, atau latihan di dalam air dapat dipertimbangkan sesuai kondisi.
Namun, latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Aktivitas yang terlalu berat atau teknik olahraga yang tidak tepat justru dapat memperburuk keluhan.
Jika memiliki berat badan berlebih, mengurangi berat badan dapat membantu mengurangi tekanan pada lutut.
NIAMS menyebutkan bahwa penurunan berat badan pada orang dengan overweight atau obesitas dapat membantu mengurangi nyeri, mencegah cedera tambahan, dan meningkatkan kemampuan bergerak.
Tidak perlu melakukan perubahan ekstrem. Penurunan berat badan secara bertahap dan realistis umumnya lebih mudah dipertahankan.
Fisioterapi dapat membantu memperkuat otot yang mendukung lutut dan memperbaiki fungsi serta rentang gerak.
Latihan dapat disesuaikan berdasarkan kondisi masing-masing sehingga beban pada sendi tetap terkontrol.
Terapi panas maupun dingin dapat membantu sebagian penderita mengurangi nyeri.
Panas dapat membantu memberikan rasa nyaman dan mengurangi kekakuan, sedangkan dingin dapat membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan pada kondisi tertentu.
Penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan respons tubuh.
Dokter dapat merekomendasikan obat tertentu untuk mengendalikan nyeri osteoarthritis.
Pemilihan obat tidak bisa disamaratakan karena dokter perlu mempertimbangkan tingkat nyeri, usia, penyakit lain, serta obat yang sedang digunakan.
Penggunaan obat pereda nyeri secara terus-menerus tanpa pengawasan sebaiknya dihindari.
Pijat dapat memberikan rasa nyaman dan pada sebagian orang membantu mengurangi ketegangan otot di sekitar area yang sakit.
Namun, pijat tidak dapat menghilangkan perubahan struktur sendi akibat osteoarthritis.
Jika lutut mengalami nyeri yang terus menerus atau semakin sulit digerakkan, pemeriksaan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Tidak ada satu makanan yang terbukti dapat menghilangkan osteoarthritis lutut.
Namun, pola makan sehat tetap penting untuk menjaga berat badan dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Bagi seseorang dengan berat badan berlebih, pengaturan pola makan dapat membantu proses penurunan berat badan yang pada akhirnya dapat mengurangi tekanan pada lutut.
Jadi, daripada mencari satu jenis makanan yang dianggap dapat “mengikis pengapuran”, lebih baik fokus pada pola makan yang seimbang dan berat badan yang sehat.
Tidak.
Nyeri lutut dapat berasal dari banyak kondisi, seperti cedera ligamen, kerusakan meniskus, peradangan, gout, infeksi, atau masalah struktur lainnya.
Karena itu, diagnosis tidak sebaiknya dibuat hanya berdasarkan lokasi rasa sakit. Pemeriksaan dokter dibutuhkan untuk menentukan penyebabnya.
NIAMS menjelaskan bahwa tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang selalu digunakan untuk mendiagnosis osteoarthritis. Dokter dapat mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, pencitraan seperti rontgen atau MRI, dan pemeriksaan lain bila diperlukan untuk menyingkirkan penyebab yang berbeda.
Rontgen dapat membantu melihat beberapa perubahan khas osteoarthritis.
Pemeriksaan tersebut dapat menunjukkan penyempitan ruang sendi, perubahan tulang, dan pertumbuhan tulang atau osteofit. Namun, kerusakan sendi pada tahap awal tidak selalu terlihat melalui rontgen.
Karena itu, hasil rontgen tetap perlu dihubungkan dengan keluhan dan pemeriksaan fisik.
Lutut yang nyeri sesekali setelah aktivitas berat belum tentu menunjukkan penyakit serius. Namun, bila nyeri terus berulang atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya lakukan pemeriksaan.
Perhatian lebih juga diperlukan jika lutut semakin kaku, membengkak, sulit ditekuk atau diluruskan, terasa tidak stabil, atau keluhan semakin memburuk.
Bila nyeri muncul setelah cedera berat dan lutut sulit digunakan, pemeriksaan juga diperlukan untuk memastikan tidak ada kerusakan pada struktur lain.
Tidak semua penderita osteoarthritis lutut membutuhkan operasi.
Sebagian besar penanganan dimulai dengan perubahan gaya hidup, olahraga atau fisioterapi, pengelolaan berat badan, serta terapi untuk mengendalikan nyeri.
Pada kondisi tertentu ketika kerusakan sendi sudah berat dan berbagai penanganan lainnya tidak memberikan hasil yang cukup, dokter dapat mempertimbangkan tindakan operasi, termasuk penggantian sendi.
Keputusan tersebut harus dibuat berdasarkan kondisi pasien, tingkat nyeri, keterbatasan aktivitas, dan hasil pemeriksaan.
Menjaga kesehatan lutut dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana.
Tetap aktif dengan olahraga yang sesuai, jaga berat badan, hindari cedera, dan jangan memaksakan lutut melakukan aktivitas berat secara berlebihan. Bila pekerjaan mengharuskan banyak jongkok atau berlutut, usahakan mengatur aktivitas dan memberikan waktu istirahat.
Jika sudah pernah mengalami cedera lutut, lakukan pemulihan dengan baik sebelum kembali ke aktivitas berat.
Kebiasaan tersebut tidak dapat menjamin seseorang bebas osteoarthritis, tetapi dapat membantu mengurangi berbagai faktor risiko yang masih dapat dikendalikan.
Pengapuran lutut umumnya merujuk pada osteoarthritis lutut, yaitu kondisi ketika jaringan di dalam sendi mengalami perubahan dan kerusakan secara bertahap. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, pembengkakan, bunyi berderak, serta keterbatasan gerak.
Usia merupakan salah satu faktor risiko, tetapi pengapuran lutut juga dapat berkaitan dengan berat badan berlebih, riwayat cedera, aktivitas dengan tekanan berulang, struktur sendi, dan faktor genetik.
Meskipun osteoarthritis tidak memiliki obat yang dapat menghilangkan penyakit secara permanen, gejalanya dapat dikelola. Olahraga yang sesuai, menjaga berat badan, fisioterapi, terapi untuk mengurangi nyeri, dan pada kasus tertentu tindakan operasi dapat menjadi bagian dari penanganan.
Jadi, ketika lutut mulai sering terasa sakit atau kaku, jangan langsung menganggapnya sebagai “pengapuran karena usia”. Pemeriksaan yang tepat dapat membantu mengetahui penyebab sebenarnya dan menentukan penanganan yang sesuai.