Kenali pengapuran sendi atau osteoarthritis, mulai dari penyebab, gejala, sendi yang sering terkena, hingga cara mengatasi dan menjaga kesehatan sendi.
Pengapuran sendi merupakan istilah yang cukup sering digunakan ketika seseorang mengalami nyeri, kaku, atau sulit menggerakkan sendi. Keluhan ini paling sering dirasakan pada lutut, pinggul, tangan, leher, atau bagian tubuh lain yang banyak digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Banyak orang mengira pengapuran sendi berarti tulang mengalami penumpukan kapur atau kalsium. Padahal, dalam penggunaan sehari-hari, istilah pengapuran sendi sering merujuk pada osteoarthritis (OA), yaitu kondisi ketika jaringan di dalam sendi mengalami perubahan dan kerusakan secara bertahap. Kondisi tersebut dapat melibatkan tulang rawan, tulang, tendon, ligamen, dan jaringan pelapis sendi.
Lalu, apa sebenarnya penyebab pengapuran sendi dan apakah kondisi ini bisa disembuhkan?
Pengapuran sendi atau osteoarthritis merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkembang secara bertahap. Salah satu perubahan penting yang terjadi adalah kerusakan tulang rawan yang melapisi ujung tulang di dalam sendi.
Tulang rawan berfungsi membantu tulang bergerak dengan lebih lancar sekaligus mengurangi gesekan. Ketika struktur tersebut mengalami perubahan, sendi dapat terasa nyeri, kaku, bengkak, atau semakin sulit digerakkan.
Dalam perkembangannya, perubahan pada sendi juga dapat menyebabkan munculnya pertumbuhan tulang baru yang disebut osteofit atau bone spur. Perubahan inilah yang pada pemeriksaan tertentu sering disebut sebagai “pengapuran”.
Jadi, pengapuran sendi bukan sekadar masalah karena terlalu banyak kalsium di dalam tubuh.
Osteoarthritis tidak hanya disebabkan oleh usia. Prosesnya melibatkan perubahan pada jaringan sendi yang berlangsung secara bertahap.
Meski begitu, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risikonya.
Risiko osteoarthritis meningkat seiring bertambahnya usia. Hal ini berkaitan dengan perubahan jaringan sendi yang terjadi secara bertahap sepanjang kehidupan.
Namun, bukan berarti semua orang yang sudah lanjut usia pasti mengalami pengapuran sendi. Kondisi setiap orang berbeda dan faktor risiko lainnya juga dapat berpengaruh.
Berat badan berlebih dapat meningkatkan beban pada sendi, terutama sendi yang menopang tubuh seperti lutut dan pinggul.
Selain memberikan tekanan mekanis yang lebih besar, obesitas juga berkaitan dengan proses biologis yang dapat memengaruhi jaringan sendi. Karena itu, menjaga berat badan tetap sehat menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan osteoarthritis.
Riwayat cedera pada sendi dapat meningkatkan risiko osteoarthritis di kemudian hari.
Cedera olahraga, kecelakaan, atau kerusakan pada struktur sendi dapat mengubah cara sendi bekerja. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap perubahan degeneratif.
Penggunaan sendi secara berulang dalam pekerjaan atau aktivitas tertentu juga dapat meningkatkan risikonya.
Gerakan yang sama berulang kali, terutama bila memberikan tekanan besar pada sendi, dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Namun, bukan berarti aktivitas fisik secara umum harus dihindari.
Justru olahraga yang sesuai dapat membantu menjaga kekuatan otot dan fungsi sendi.
Riwayat keluarga juga dapat berperan dalam risiko seseorang mengalami osteoarthritis.
Karena faktor genetik bukan sesuatu yang dapat diubah, penting untuk lebih memperhatikan faktor lain yang masih dapat dikendalikan, seperti berat badan, aktivitas fisik, dan pencegahan cedera.
Hampir semua sendi dapat mengalami osteoarthritis, tetapi beberapa area lebih sering terdampak.
Lutut merupakan salah satu sendi yang paling sering mengalami osteoarthritis karena harus menopang berat badan sekaligus digunakan untuk berjalan, berdiri, naik tangga, dan berbagai aktivitas lainnya.
Keluhannya dapat berupa nyeri ketika berjalan, naik tangga, berdiri dari kursi, atau melakukan aktivitas tertentu. Lutut juga dapat terasa kaku atau mengeluarkan suara berderak ketika digerakkan.
Osteoarthritis pada pinggul dapat menyebabkan nyeri dan kekakuan di area pinggul, selangkangan, paha bagian dalam, atau bokong.
Seiring berkembangnya kondisi, rentang gerak pinggul dapat semakin terbatas sehingga aktivitas seperti berjalan atau memakai sepatu menjadi lebih sulit.
Tangan juga dapat mengalami osteoarthritis.
Keluhan dapat berupa nyeri, kaku, perubahan bentuk sendi jari, atau munculnya pembesaran tulang pada sendi tertentu. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas seperti membuka tutup botol, menggenggam benda, atau menggunakan peralatan rumah tangga.
Perubahan osteoarthritis juga dapat terjadi pada tulang belakang, termasuk leher dan punggung bagian bawah.
Keluhan yang muncul dapat berupa nyeri dan kaku. Pada sebagian orang, perubahan tulang belakang dapat berkaitan dengan penyempitan ruang yang kemudian memengaruhi saraf dan menimbulkan keluhan lain.
Gejala osteoarthritis biasanya berkembang perlahan.
Keluhan yang paling umum adalah nyeri saat sendi digunakan, kekakuan setelah beristirahat, pembengkakan, serta berkurangnya kemampuan untuk menggerakkan sendi. Kekakuan setelah bangun tidur atau beristirahat biasanya berlangsung relatif singkat, sering kali kurang dari 30 menit.
Sebagian orang juga merasakan sendi seperti berderak atau bergesekan ketika digerakkan. Pada tahap tertentu, sendi dapat terasa tidak stabil atau gerakannya menjadi semakin terbatas.
Tidak selalu.
Perubahan pada sendi dan tingkat keluhan yang dirasakan seseorang tidak selalu sama. Ada orang yang memiliki perubahan osteoarthritis tetapi gejalanya ringan, sementara orang lain dapat mengalami nyeri dan keterbatasan aktivitas yang cukup besar.
Karena itu, hasil pemeriksaan seperti rontgen sebaiknya tidak dinilai secara terpisah dari gejala dan pemeriksaan dokter.
Osteoarthritis merupakan kondisi jangka panjang dan belum memiliki obat yang dapat menghilangkan penyakitnya secara permanen. Namun, gejala dapat dikelola dan fungsi sendi dapat dipertahankan atau ditingkatkan dengan penanganan yang tepat.
Tujuan penanganan bukan hanya menghilangkan rasa sakit, tetapi juga membantu seseorang tetap aktif dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, diagnosis “pengapuran” bukan berarti seseorang harus pasrah dengan nyeri yang dialaminya.
Penanganan akan disesuaikan dengan lokasi sendi, tingkat keluhan, kondisi kesehatan, dan kebutuhan masing-masing orang.
Banyak orang justru takut bergerak karena khawatir olahraga akan membuat sendi semakin rusak.
Padahal, aktivitas fisik yang sesuai merupakan salah satu bagian penting dalam pengelolaan osteoarthritis. Latihan dapat membantu mengurangi nyeri dan kekakuan sekaligus meningkatkan kekuatan otot dan fleksibilitas.
Jenis aktivitas dapat berupa berjalan, bersepeda, berenang, latihan kekuatan, atau olahraga dengan benturan rendah. Intensitasnya sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh.
Bagi orang yang memiliki berat badan berlebih, penurunan berat badan dapat membantu mengurangi tekanan pada sendi, terutama lutut dan pinggul.
NIAMS dan NHS memasukkan pengelolaan berat badan sebagai bagian penting dalam penanganan osteoarthritis.
Penurunan berat badan tidak harus dilakukan secara ekstrem. Perubahan yang bertahap dan realistis lebih mudah dipertahankan.
Terapi panas dan dingin dapat digunakan sebagai salah satu cara membantu mengurangi keluhan pada sebagian orang.
Panas dapat membantu memberikan rasa nyaman dan meningkatkan fleksibilitas, sedangkan dingin dapat membantu mengurangi rasa sakit atau pembengkakan.
Namun, penggunaan panas atau dingin tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan dilakukan dengan cara yang aman.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan obat untuk membantu mengontrol rasa sakit.
Jenis obat yang digunakan bergantung pada kondisi pasien dan risiko efek sampingnya. Karena itu, penggunaan obat penghilang rasa sakit secara rutin sebaiknya tidak dilakukan tanpa pertimbangan tenaga kesehatan.
Pijat dapat memberikan rasa nyaman pada sebagian orang dan dapat membantu mengurangi ketegangan otot di sekitar area yang sakit.
Namun, pijat tidak berarti dapat menghilangkan perubahan struktur sendi yang terjadi pada osteoarthritis.
Bila nyeri menetap, pembengkakan muncul, atau gerakan sendi semakin terbatas, pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya tetap diperlukan.
Tidak ada satu jenis makanan yang terbukti dapat “mengikis” atau menghilangkan osteoarthritis.
Meski demikian, pola makan yang sehat tetap penting untuk membantu menjaga berat badan dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Daripada mencari satu makanan yang dianggap sebagai obat pengapuran, lebih baik fokus pada pola makan yang seimbang dan menjaga berat badan dalam kisaran yang sehat.
Tidak.
Nyeri sendi dapat disebabkan oleh banyak kondisi, termasuk cedera, gout, rheumatoid arthritis, infeksi, dan berbagai gangguan lainnya.
Misalnya, sendi yang tiba-tiba bengkak, merah, panas, dan sangat nyeri dapat memiliki penyebab yang berbeda dari osteoarthritis.
Karena itu, istilah “pengapuran” sebaiknya tidak langsung digunakan untuk menjelaskan semua keluhan sendi.
Dokter biasanya akan menanyakan gejala, riwayat kesehatan, dan melakukan pemeriksaan fisik pada sendi yang bermasalah.
Bila diperlukan, pemeriksaan pencitraan seperti rontgen dapat dilakukan. Rontgen dapat menunjukkan penyempitan ruang sendi, perubahan tulang, serta pertumbuhan tulang atau osteofit. MRI dapat digunakan pada kondisi tertentu untuk melihat jaringan lunak dan struktur sendi dengan lebih detail.
Pemeriksaan tambahan juga dapat dilakukan ketika dokter perlu menyingkirkan penyebab nyeri sendi lainnya.
Nyeri sendi yang terus berulang atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari sebaiknya diperiksakan.
Jangan menunda pemeriksaan jika sendi semakin sulit digerakkan, bengkak terus-menerus, terasa tidak stabil, atau rasa sakit semakin berat.
Pemeriksaan juga penting ketika gejalanya tidak khas untuk osteoarthritis, misalnya kekakuan pagi hari yang berlangsung lama, sendi sangat merah dan panas, atau nyeri muncul tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas.
Semakin tepat penyebabnya diketahui, semakin sesuai pula penanganannya.
Pengapuran sendi umumnya merupakan istilah yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan osteoarthritis, yaitu kondisi ketika jaringan di dalam sendi mengalami perubahan dan kerusakan secara bertahap. Kondisi ini tidak sekadar disebabkan oleh penumpukan kalsium.
Pengapuran dapat menyerang lutut, pinggul, tangan, leher, punggung, dan sendi lainnya. Faktor risikonya antara lain usia, berat badan berlebih, riwayat cedera sendi, penggunaan sendi secara berulang, kelainan struktur sendi, dan faktor keluarga.
Walaupun osteoarthritis tidak dapat disembuhkan secara permanen, keluhannya dapat dikelola. Aktivitas fisik yang sesuai, menjaga berat badan, terapi untuk mengurangi nyeri, serta penanganan medis bila diperlukan dapat membantu mempertahankan fungsi sendi dan kualitas hidup.
Jadi, ketika lutut atau sendi lain mulai sering terasa nyeri dan kaku, jangan langsung menganggapnya sebagai “pengapuran karena usia”. Pemeriksaan yang tepat dapat membantu mengetahui penyebab sebenarnya dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.