Penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun menyerang tubuh sendiri. Kenali penyebab, gejala, jenis penyakit autoimun, serta cara penanganannya
Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun berfungsi melindungi tubuh dari serangan bakteri, virus, jamur, dan berbagai zat berbahaya lainnya. Namun, pada penderita penyakit autoimun, sistem kekebalan justru keliru mengenali sel dan jaringan tubuh sendiri sebagai ancaman. Akibatnya, sistem imun menyerang tubuh sehingga memicu peradangan dan kerusakan pada berbagai organ.
Penyakit autoimun dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun, beberapa jenis autoimun lebih sering ditemukan pada wanita, terutama pada usia produktif. Gejalanya pun sangat beragam, tergantung organ yang terkena, sehingga sering kali sulit dikenali pada tahap awal.
Penyakit autoimun adalah kelompok penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan kronis dan gangguan fungsi organ.
Autoimun dapat menyerang satu organ tertentu, seperti kelenjar tiroid atau pankreas, maupun menyerang beberapa organ sekaligus, seperti pada lupus. Karena gejalanya berbeda-beda, diagnosis penyakit autoimun sering memerlukan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter.
Hingga saat ini, penyebab pasti penyakit autoimun belum diketahui secara pasti. Para ahli meyakini bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor.
Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit autoimun diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Meski demikian, tidak semua orang dengan riwayat keluarga akan mengalami penyakit autoimun.
Paparan terhadap infeksi tertentu, asap rokok, polusi, atau bahan kimia diduga dapat memicu munculnya penyakit autoimun pada individu yang memiliki kerentanan genetik.
Beberapa penyakit autoimun lebih sering terjadi pada wanita. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan hormon diduga memiliki peran dalam perkembangan penyakit, meskipun mekanismenya masih terus diteliti.
Pada kondisi tertentu, sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan antara sel tubuh sendiri dengan zat asing. Akibatnya, antibodi menyerang jaringan sehat dan menimbulkan peradangan.
Terdapat lebih dari 80 jenis penyakit autoimun yang telah dikenal. Beberapa yang paling sering ditemukan meliputi:
Lupus (Systemic Lupus Erythematosus/SLE), yang dapat menyerang kulit, sendi, ginjal, hingga organ lainnya.
Rheumatoid arthritis, yaitu penyakit autoimun yang menyerang persendian.
Diabetes melitus tipe 1, ketika sistem imun merusak sel penghasil insulin di pankreas.
Penyakit Graves, penyebab umum hipertiroidisme akibat produksi hormon tiroid yang berlebihan.
Hashimoto thyroiditis, penyebab hipotiroidisme akibat kerusakan kelenjar tiroid.
Psoriasis, yang menyebabkan peradangan dan penebalan pada kulit.
Multiple sclerosis, yaitu penyakit yang menyerang sistem saraf pusat.
Penyakit celiac, ketika sistem imun bereaksi terhadap gluten dan merusak usus halus.
Setiap jenis autoimun memiliki gejala dan penanganan yang berbeda.
Gejala penyakit autoimun sangat bervariasi tergantung organ yang terkena. Namun, beberapa keluhan yang sering muncul antara lain:
Mudah lelah berkepanjangan.
Nyeri dan bengkak pada sendi.
Demam ringan yang berulang.
Ruam pada kulit.
Rambut rontok.
Penurunan atau peningkatan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Gangguan pencernaan.
Mati rasa atau kesemutan.
Mata dan mulut terasa kering.
Sulit berkonsentrasi.
Karena gejalanya menyerupai banyak penyakit lain, diagnosis autoimun sering kali membutuhkan waktu.
Penyakit autoimun dapat terjadi pada siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada beberapa kelompok, seperti:
Wanita, terutama usia 15–45 tahun.
Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit autoimun.
Menderita penyakit autoimun lain.
Terpapar faktor lingkungan tertentu, seperti merokok atau infeksi tertentu.
Memiliki faktor risiko bukan berarti seseorang pasti akan mengalami penyakit autoimun, tetapi kemungkinan terjadinya dapat meningkat.
Dokter akan melakukan wawancara mengenai gejala, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan fisik.
Untuk membantu menegakkan diagnosis, dokter dapat menyarankan pemeriksaan darah, seperti antibodi antinuklear (ANA), laju endap darah (LED), C-reactive protein (CRP), atau pemeriksaan lain sesuai dugaan penyakit. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan pencitraan atau biopsi juga mungkin diperlukan.
Hingga saat ini, sebagian besar penyakit autoimun belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, pengobatan bertujuan untuk mengendalikan aktivitas sistem imun, mengurangi peradangan, serta mencegah kerusakan organ lebih lanjut.
Dokter dapat memberikan obat antiinflamasi, kortikosteroid, obat imunosupresan, atau terapi biologis sesuai jenis dan tingkat keparahan penyakit.
Selain pengobatan, penderita juga dianjurkan menjalani pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga sesuai kemampuan, mengelola stres, tidur yang cukup, dan menghindari kebiasaan merokok.
Karena penyebabnya belum diketahui secara pasti, penyakit autoimun belum dapat dicegah sepenuhnya.
Meski demikian, menjaga gaya hidup sehat, menghindari paparan asap rokok, menjaga berat badan ideal, mengelola stres, dan melakukan pemeriksaan kesehatan apabila muncul gejala yang mencurigakan dapat membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri sehingga menyebabkan peradangan dan gangguan fungsi organ. Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi diduga melibatkan faktor genetik, lingkungan, hormon, dan gangguan sistem imun.
Gejalanya dapat berbeda-beda pada setiap orang, tergantung organ yang terkena. Meskipun sebagian besar penyakit autoimun belum dapat disembuhkan, diagnosis dini, pengobatan yang tepat, serta penerapan gaya hidup sehat dapat membantu mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderita.