Apakah kualitas udara yang buruk bisa menyebabkan penyakit? Ketahui dampak polusi udara bagi paru-paru, jantung, mata, serta cara melindungi diri dari paparan polusi
Udara merupakan kebutuhan utama bagi setiap manusia. Setiap hari kita menghirup ribuan liter udara tanpa menyadari bahwa kualitas udara yang buruk dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Paparan polusi udara secara terus-menerus tidak hanya mengganggu sistem pernapasan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, kualitas udara di sejumlah kota sering menjadi perhatian karena tingginya kadar polutan. Kondisi ini membuat banyak orang bertanya, apakah kualitas udara yang buruk benar-benar bisa menyebabkan penyakit?
Jawabannya adalah ya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan polusi udara, terutama dalam jangka panjang, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, meskipun tingkat risikonya dipengaruhi oleh jenis polutan, lamanya paparan, serta kondisi kesehatan setiap individu.
Kualitas udara yang buruk terjadi ketika udara mengandung polutan dalam jumlah tinggi sehingga berpotensi membahayakan kesehatan.
Polutan tersebut dapat berupa partikel halus (PM2.5 dan PM10), asap kendaraan bermotor, emisi industri, asap kebakaran hutan, ozon di permukaan tanah, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, hingga karbon monoksida.
Partikel berukuran sangat kecil seperti PM2.5 mampu masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan dapat memasuki aliran darah, sehingga dampaknya tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan.
Salah satu dampak yang paling sering dikaitkan dengan kualitas udara yang buruk adalah gangguan pada saluran pernapasan.
Paparan polusi udara dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Akibatnya, seseorang dapat mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas, atau memperburuk kondisi seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Pada anak-anak, polusi udara juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan dan memengaruhi perkembangan fungsi paru.
Dampak polusi udara tidak hanya dirasakan oleh paru-paru.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan polusi udara dalam jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan stroke.
Diduga, partikel polusi dapat memicu peradangan dan memengaruhi fungsi pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Udara yang tercemar juga dapat menyebabkan iritasi pada mata.
Beberapa orang mungkin mengalami mata merah, berair, perih, terasa gatal, atau kering setelah berada di lingkungan dengan tingkat polusi yang tinggi.
Bagi pengguna lensa kontak atau penderita mata kering, keluhan tersebut dapat terasa lebih mengganggu.
Ibu hamil dan anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
Beberapa penelitian mengaitkan paparan polusi udara selama kehamilan dengan peningkatan risiko gangguan pada kehamilan dan pertumbuhan janin. Sementara itu, pada anak-anak, kualitas udara yang buruk dapat memengaruhi perkembangan paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Karena itu, kelompok ini sebaiknya lebih berhati-hati ketika kualitas udara sedang memburuk.
Paparan polusi udara dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, terutama kanker paru-paru.
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), yang merupakan bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengklasifikasikan polusi udara luar ruangan sebagai karsinogen bagi manusia. Artinya, terdapat bukti ilmiah bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi udara dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker paru-paru.
Meski demikian, risiko kanker dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kebiasaan merokok, faktor genetik, paparan zat kimia tertentu, dan kondisi lingkungan secara keseluruhan.
Meskipun polusi udara dapat memengaruhi siapa saja, beberapa kelompok lebih rentan mengalami dampaknya.
Kelompok tersebut antara lain bayi dan anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, PPOK, penyakit jantung, serta orang yang sering beraktivitas di luar ruangan atau bekerja di lingkungan dengan tingkat polusi tinggi.
Saat kualitas udara memburuk, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi paparan.
Batasi aktivitas di luar ruangan jika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, terutama bagi kelompok rentan. Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti masker dengan standar yang sesuai.
Selain itu, tutup jendela ketika polusi sedang tinggi, gunakan penyaring udara (air purifier) bila diperlukan, dan hindari merokok atau paparan asap rokok di dalam rumah.
Menjaga pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga di lingkungan dengan udara yang lebih bersih, dan tidur yang cukup juga dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.
Segera periksakan diri apabila mengalami sesak napas yang semakin berat, batuk berkepanjangan, nyeri dada, atau gejala lain yang tidak kunjung membaik setelah terpapar udara yang tercemar.
Penderita penyakit paru maupun penyakit jantung juga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila gejalanya memburuk ketika kualitas udara sedang tidak baik.
Kualitas udara yang buruk memang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama gangguan saluran pernapasan, penyakit jantung, iritasi mata, serta dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru. Dampaknya dapat lebih besar pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang yang memiliki penyakit kronis.
Mengurangi paparan polusi udara, memantau kualitas udara di sekitar, menggunakan perlindungan yang sesuai saat diperlukan, serta menerapkan pola hidup sehat merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan. Jika muncul keluhan yang mengganggu atau semakin berat, segera lakukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.